You are here
Home > Inspirasi > Sosok

Aku Harus Sembuh, Aku Masih Mau Jadi Wartawan

Menjadi seorang wartawati, merupakan hasrat terbesar dalam hidupku hingga saat ini. Kadang, aku juga tak tahu mengapa aku begitu mencintai pekerjaan ini. Kalau dilihat dari silsilah keluarga, belum ada yang menjadi wartawan. Beragam stigma dari mulai gaji yang tak banyak sampai resiko pekerjaan yang tak mengenal waktu, sering terdengar. Rata-rata, mereka semua menjadi guru atau pegawai kantoran. Sedangkan aku? Aku tak bisa berlama-lama ada di satu tempat. Semakin hari semakin kusadari, menjadi wartawati adalah pilihan hidupku. Tak semata pekerjaan, menjadi seorang wartawati adalah mediaku berlatih agar tak melulu takut dan ragu untuk bertemu dan berbicara di hadapan khalayak ramai. Jalanku menjadi seorang wartawan, bukanlah suatu hal yang mudah. Setelah lulus dari D3 jurusan Sekretaris pada tahun 2009 lalu, aku sempat melamar beberapa pekerjaan ke sana ke sini hingga akhirnya di Desember 2009, aku diterima menjadi telemarketing. Sedihnya, dua bulan bekerja, malah tak mendapatkan gaji dengan alasan masih masa percobaan. Jerih payahku sungguh tak ada hasilnya. Kalau boleh jujur, aku sempat down. Februari 2010, aku keluar dari kantor itu. Beberapa bulan saat masih dalam rangka mencari pekerjaan, aku mengalami kecelakaan yang menyebabkan syarafku mengalami masalah. Beberapa bulan berobat rutin, aku sembuh. Setelah sembuh, aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah. Kali ini aku mengambil jurusan Komunikasi di salah satu universitas swasta. Saat kuliah, aku sempat beberapa kali diterima bekerja sebagai marketing dan telemarketing. Setelah berbulan-bulan gonta ganti pekerjaan yang bergaji rendah, aku memutuskan untuk berhenti kerja. Aku merasa tak memiliki kompetensi apa-apa di bidang marketing. Akhirnya, aku berniat serius kuliah sekaligus menjadi blogger di blog keroyokan. Tujuanku hanya satu, yaitu berlatih menulis karena aku memang lebih suka menyampaikan maksudku lewat tulisan. Berbekal keterampilan menulis itu ditambah kesukaanku membaca. Selesai kuliah, aku melamar pekerjaan sebagai wartawan di salah satu surat kabar lokal di daerahku. Syukur kepada Tuhan, aku diterima setelah dilakukan seleksi. Awal mula menjadi wartawan, tidaklah mudah. Aku

Pesan Mama Emi Ini Bikin Haru Kaum Bapak

Kedatangan Cawagub NTT nomor urut 2, Emelia Julia Nomleni, ke Kecamatan Kota Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), tidak hanya disambut antusias dua ribu lebih warga. Pidato perempuan berambut putih ini pun menimbulkan rasa haru untuk sebagian besar warga. Rasa haru tersebut tiba ketika Mama Emi, sapaan akrab Emelia, menyampaikan pesan khusus kepada kaum bapak di Provinsi Seribu Pulau ini. "Bagi kaum lelaki, kaum bapak, kalau memiliki anak perempuan, jagalah dia dengan baik. Didiklah dia dengan penuh kasih sayang. Suatu saat, dia bisa tumbuh dan muncul sebagai seorang pejuang dan pemimpin," ucap Mama Emi, Senin (26/3). "Dengan itu, mereka bisa berguna bagi banyak orang, dan bisa memberikan pengharapan sekaligus penghargaan bagi keluarga," lanjut Mama Emi yang disambut riuh tepuk tangan ribuan warga, khususnya bapak-bapak. Mama Emi bercerita, sewaktu diberi kesempatan mendampingi Marianus Sae untuk maju dalam ajang Pilgub NTT 2018, insinyur perempuan tersebut menerimanya dengan perenungan yang dalam. "Saya merenung, kalau saya menolak mencalonkan diri menjadi wakil gubernur, maka saya sedang mematikan harapan para perempuan-perempuan muda yang baru tumbuh. Saya sedang mematikan langka anak-anak perempuan kita," kata Mama Emi. "Saya harus bisa memberikan jalan dan contoh, bahwa di depan anak-anak perempuan kita, terhampar harapan yang luas," kata Mama Emi yang lagi-lagi memicu riuh tepuk tangan ribuan warga. Dengan kedatangannya ke Sumba ini, Mama Emi mengakui mendapatkan banyak energi positif. Energi itu, menurut dia, bisa membuatnya selalu mempunyai harapan dan semangat dalam menjalani masa-masa kampanye sampai pada pemungutan suara pada 27 Juni nanti.

Top